Beberapa jenis lisensi yang mendukung open sains

 

Artikel ini merupakan bagian dari upaya kami (saya bersama Bapak Eko Susanto dari Relawan Jurnal Indonesia) untuk membuat dokumen Glossary of Open Sains dan hal-hal yang terkait. Dokumen ini merupakan penyuntingan dan translasi dari dokumen asli berikut ini:

Tennant, J. and Mounce, R. (2015): Open Research Glossary. figshare.  https://doi.org/10.6084/m9.figshare.1482094.v1Retrieved: 02 56, May 25, 2017 (GMT)

Creative Commons Licenses (Shihaam Donnelly, CC-BY-NC-SA)

Bila pembaca ingin berkontribusi, silahkan kunjungi berkas di Google Drive berikut ini.

Beberapa jenis lisensi yang mendukung penyebaran ilmu secara terbuka. Lisensi-lisensi dapat diterapkan pada berbagai jenis dokumen, misal: makalah ilmiah, buku, presentasi poster, slide paparan, dll.

  • Creative Commons (CC) – Adalah set berbagai lisensi yang merinci hak penulis dan pengguna, sebagai alternatif dari lisensi copyright yang biasa dipakai. Lisensi CC telah banyak digunakan, sederhana untuk dinyatakan, dapat dibaca mesin (komputer), dan dibuat oleh para ahli hukum. Ada beberapa lisensi CC, yang masing-masing menggunakan satu klausul atau lebih, contoh diberikan di bawah ini. Beberapa lisensi kompatibel dengan definisi Open Access Budapest, dan beberapa lisensi tidak kompatibel. (Rujukan) (Memilih lisensi).
  • CC Attribution (BY) – lisensi dokumen yang membolehkan penggunaan ulang (reuse), penyebaran (sharing), dan penggabungan (remixing) material selama menyatakan sumber atau penulis aslinya (attribution). Lisensi CC-BY juga tidak memasang larangan untuk penggandaan (copying).
  • CC Non Commercial (NC) – lisensi dokumen yang membolehkan penggunaan dokumen sumber hanya untuk tujuan non-komersial, dengan tetap menyatakan sumber atau penulis aslinya.
  • CC No Derivatives (ND) – lisensi dokumen yang hanya membolehkan penggunaan dokumen sumber tanpa melakukan pengubahan apapun, dengan tetap menyatakan sumber atau penulis aslinya.
  • CC Share Alike (SA) – lisensi dokumen yang hanya membolehkan penggunaan dokumen sumber dengan lisensi yang sama dengan lisensi dokumen sumber.
  • CC Zero (CC 0) – pembebasan dokumen dari lisensi copyright: dengan demikian, dokumen bersifat milik publik (public domain) dan dapat digunakan secara bebas tanpa kewajiban menyebutkan penulis aslinya. (Rujukan)
  • MIT License Lisensi piranti lunak yang terbuka dan permisif. (Rujukan)

Berikut ilustrasi lisensi CC, dari atas (yang paling bebas) ke bawah (yang paling tidak bebas).

Susunan berbagai variasi lisensi CC dari yang paling bebas hingga yang paling tidak bebas (tautan).

Berdasarkan uraian di atas, maka jelaskan bahwa masing-masing penulis akan memiliki hak yang sama untuk memilih lisensi yang tepat untuk dokumennya. Akan selalu ada dua kutub, yakni kutub komersialisasi dan kutub non-komersialisasi.

Sebagai contoh buku, pilihan penulis ada tiga (setidaknya):

  1. Penulis dapat menggunakan cara konvensional, yakni mentransfer hak cipta dan penerbitan kepada penerbit, dan penulis menunggu royalti dari hasil penjualan buku yang dilakukan hanya oleh Penerbit, atau,
  2. Penulis dapat membuka soft file buku (biasanya dalam format pdf atau e-book) untuk dibaca secara bebas oleh semua orang. Untuk buku seperti ini, maka lisensi yang cocok adalah CC-BY (Creative Commons Attribution). Ibu dan bapak dapat mengunggah berkas pdf ke layanan repositori terbuka agar dokumen mendapatkan DOI (digital object identifier), atau,
  3. Penulis dapat menggunakan mode kombinasi (hybrid), yakni versi pdf diunggah dan dibagikan secara bebas seperti no 2, tetapi diberikan catatan, bahwa bagi pembaca yang ingin memiliki versi cetak dipersilahkan menghubungi Penerbit XXX.

Cara no 3 ini sudah banyak yang menggunakan, seringnya penulis luar negeri dengan pertimbangan:

  1. Ilmu berkembang pesat, jadi untuk apa diberi lisensi tertutup. Justru dengan lisensi terbuka, kolaborasi dapat dimulai. Selain itu, saat ini, dokumen yang dapat disitasi secara formal tidak terbatas kepada buku tercetak atau makalah pada jurnal ilmiah. Makalah-makalah preprint di server ArXiv pun juga dapat dirujuk. Dokumen akan lebih mudah disitasi bila memiliki tautan yang bersifat tetap (seperti DOI).
  2. Bila menggunakan cara no 1 saja, maka ISBN didapatkan, tetapi ada kendala saat pembaca perlu merujuk buku versi cetak. Ini karena zaman sekarang, sitasi biasanya memerlukan tautan daring. Bila memilih no 2 saja, maka ISBN tidak didapatkan.
  3. Bila memilih no 3, maka tujuan no 1 tercapai, ISBN didapatkan, dan tautan yang tetap (persistent link) melalui penerbitan DOI juga didapatkan. Karena gratis, maka makin banyak pembaca yang membaca dan mungunduhnya untuk kemudian mungkin merujuknya. Mungkin ada yang bertanya, “bagaimana hubungannya dengan pendapatan Penerbit?” Jawaban saya adalah, bisa jadi tidak ada hubungannya, karena Penerbit hanya akan mencetak buku sesuai pesanan dengan layout yang cantik untuk menarik pembaca yang masih senang dengan dokumen tercetak. Adapun layout dalam format pdf dapat diatur “minimum” saja untuk mengakomodir pembaca yang senang dengan versi daring dan tidak keberatan dengan format yang “seadanya”.

Pilihan ada pada pembaca masing-masing.