Mengenal dosen magang: beberapa hal tentang pencarian informasi

Hari ini dan besok saya diminta berbicara mengenai identifikasi masalah, research gap, publikasi, dan pemilihan media publikasi, di salah satu sesi dalam rangkaian acara Program Dosen Magang di ITB.  Koordinator program ini adalah Pak Komang Anggayana dari FTTM ITB. Terima kasih Pak sudah memberi kesempatan kepada saya. 🙂 Berikut dokumentasinya.

(dipinjam dari flickr/beckpitt, CC-BY)

Hari pertama (01-08-2018)

Yang kami bahas.

Beberapa pesan

  • utamakan OA, mengapa?
  • utamakan jurnal yang dikendalikan oleh asosiasi profesi dan lembaga pendidikan (universitas dll), karena umumnya non profit.
  • utamakan yang tidak mengenakan biaya publikasi (APC). Ada 8000 an (70%) lebih jurnal di basis data DOAJ yang tidak mengenakan APC.

Foto oleh Bu Inayatullah dari Universitas Sains dan Teknologi Jayapura.

Hari kedua (02-08-2018)

Kami akan berdiskusi mengenai:

  • mencari referensi dengan menggunakan berbagai kata kunci
  • strategi memilih kata kunci
  • berbagai sumber informasi yang dapat digunakan
  • memvisualisasikan referensi
  • menginterpretasikan hasil pencarian referensi

Foto-foto oleh Bu Inayatullah.

Kata kunci

Kata kunci biasanya terdiri dari minimum tiga komponen ini:

  • lokasi
  • metode/teknik yang digunakan
  • masalah/tujuan yang dipecahkan

Jangan gunakan satu kata kunci, gunakan minimum tiga. Untuk mencari kombinasi kata kunci yang sesuai, Anda dapat menggunakan Google Trend.

Sumber data

Sumber data yang digunakan ada beberapa. Sumber data referensi yang gratis:

  • Google: berisi berbagai dokumen atau laman daring, ini adalah mesin pencari, jadi dia tidak melakukan seleksi atas apa yang ditemukannya. Menariknya dokumen dengan tautan publik yang dibuat dengan Google Docs hingga ke surel dalam suatu miling list dapat ditemukannya. Gunakan Google untuk memberikan konteks terkini untuk topik Anda, misalnya: berbagai berita tentang topik yang sedang Anda kerjakan. Walaupun Google ada mesin pencari terbesar dan terbanyak digunakan orang, tapi Anda bisa menggunakan mesin pencari lainnya seperti Duck Duck Go.
  • Google Scholar: GS melakukan penyaringan pada hasil pencariannya. Anda dapat menemukan berbagai jenis artikel ilmiah termasuk dokumen di dalam repositori. Jangan lupa untuk mempelajari tips pencariannya (juga tips dari Wageningen University and Research ini).
  • DOAJ: Lembaga ini mengindeks artikel yang terbit di jurnal peer-reviewed yang terdaftar dalam basis datanya. DOAJ melakukan pengulasan (review) terhadap aplikasi jurnal yang masuk. Mereka punya sederet kriteria yang harus dipenuhi oleh jurnal.
  • ScienceOpen: Ini pendatang baru, walaupun telah berdiri sejak 2013. Mereka ini lembaga bisnis berbasis sainsterbuka (openscience). Jurnal atau penerbit dapat mendaftarkan medianya ke ScienceOpen. Beberapa fitur analitis untuk hasil pencarian disediakan di sini untuk meningkatkan konteks dari pencarian Anda.
  • Pubmed: Ini adalah perpustakan digital yang awalnya dikhususkan untuk bidang kesehatan dan kedokteran. Namun dalam perkembangannya saat ini ia menampung berbagai bidang ilmu. Anda bisa membaca artikel ini untuk mempelajari karakter pencarian di Pubmed.
  • BASE research dan SHARE research: Keduanya merupakan organisasi nirlaba yang mempunyai misi untuk menyebarkan ilmu secepat dan seluas mungkin. Di dalamnya ada banyak sekali sumber data, termasuk repositori. Open Knowledge Maps, sebuah perangkat visualisasi referensi, menggunakan data dokumen dari Pubmed dan BASE dalam setiap pencariannya.
  • Microsoft Academic: Ini kurang lebih seperti Google Scholar. Sebuah mesin pencari buatan Microsoft yang didedikasikan sebagai sumber informasi sains. Banyak yang menilai MS Academic melakukan moderasi yang lebih ketat dibanding GS. Anda dapat mencobanya.

Oya. Ternyata ada juga orang baik yang telah membandingkan berbagai basis data di atas. Berikut artikelnya.

Jenis karya ilmiah yang mungkin didapatkan

Tujuh sumber data di atas memiliki koleksi yang sangat besar untuk beberapa jenis karya ilmiah sebagai berikut:

  • artikel di jurnal yang telah lolos peer-review
  • artikel di seminar yang telah lolos peer-review
  • artikel yang belum menjalani peer-review (Preprint)
  • berbagai dokumen (termasuk slide presentasi) yang tersimpan di repositori kampus
  • repositori data

Apakah semua dokumen tersebut dapat disitir?

Sebelum menjawab itu, saya perlu menyampaikan bahwa proses penyitiran adalah proses yang penuh tanggungjawab. Bukan sekedar mengutip atau memparafrase sebuah pendapat hasil riset orang lain. Dalam proses penyitiran ada lima hal yang dilakukan, yaitu:

  • menguji relevansinya dengan pekerjaan kita,
  • memeriksa data (sampai level tertentu),
  • memvalidasi metode,
  • memeriksa apakah luaran dari metode,
  • mengkritisi hasil analisisnya.

Nah kalau kelimanya bisa anda lakukan, maka mestinya semua dokumen di atas dapat Anda sitir. Begitu pula untuk dokumen jenis preprint. Fakta bahwa dokumen itu belum menjalani peer-review, bukanlah faktor yang membuatnya menjadi tidak layak untuk disitir. Jadi sekali lagi lakukan penyitiran yang bertanggungjawab. Khusus mengenai ini, Anda dapat membaca beberapa referensi sbb:

  1. preprint bukanlah publikasi formal (blog post)
  2. A multi-disciplinary perspective on emergent and future innovations in peer review (artikel peer reviewed)
  3. Should I not cite an arxiv.org paper which otherwise seems to be unpublished? (diskusi di mathoverflow)
  4. Should we cite preprints? (blog post)

  5. Preprins and citations: should non-peer reviewed material be included in article references? (blog post)

  6. Should biologists cite preprints? (blog post)

  7. Preprint FAQ (panduan tentang preprint)

Ada diskusi menarik di FB tentang hal ini.