Scopus memang penting, tapi bukan segalanya

Just how many are your Scopus-indexed articles?

Sudah beberapa kali berkomunikasi dengan peneliti-peneliti asing, ada yg senior ada yg seumuran (lebih banyak juga yang lebih muda), baik dari Asia, Eropa, Amerika), semuanya saling menyapa dan bertanya riset apa yang sedang dilakukan atau publikasi yang sudah ditulis, tapi tak seorangpun (ya tak seorangpun) yang bertanya “sudah berapa makalah anda yang masuk indeks Scopus”.

Saya memang baru mulai menyusun proposal bersama peneliti LN, tapi tak seorangpun (ya tak seorang pun) yang saat pertama kenalan atau dalam komunikasi-komunikasi selanjutnya bertanya, “sudah berapa makalah anda yang terbit dan diindeks Scopus”.

Dari beberapa grant funder yang saya tulis di post yang sebelumnya, memang semuanya bertanya berapa jumlah publikasi, profil Orcid, research statement dll, tapi tak satupun (ya tak satupun) yang bertanya, “berapa makalah anda yang sudah diindeks Scopus?”.

Di luar masalah Scopus ini ada fenomena menarik, sy sengaja melanggan notifikasi Google Citation atas nama seseorang senior. Yang saya dapatkan, hampir setiap dua minggu masuk email pemberitahuan bahwa makalah milik Bapak senior itu telah disitasi oleh makalah lain yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Inggris. Kenapa saya bilang menarik? Karena makalah karya senior saya tersebut ditulis dalam Bahasa Indonesia.