di sini pentingnya kebijakan membuka tesis di repositori kampus

Banyak kampus yang belum memiliki kebijakan membuka tesis, karena berbagai alasan. Salah satu alasan yang paling sering saya dengar adalah kekhawatiran tugas akhir tidak dapat dipublikasi bila sebelumnya telah tayang daring. Ini tidak benar, berikut buktinya.

(Gambar: Pixabay CC-0)

 

Di Surabaya baru terjadi amblesan . Terlepas dari penyebabnya. Saat saya google “penurunan tanah surabaya” muncul makalah berjudul Evaluasi Penurunan Tanah Wilayah Kota Surabaya Berdasarkan Data Pengamatan GPS Juli 2011, Oktober 2016, Desember 2016, dan Februari 2017. Saya turut prihatin dengan bencana tersebut.

Upaya pencarian informasi saya lanjutkan. Saat saya google “land subsidence surabaya”,  muncul makalah berjudul Environmental Impacts of Land Subsidence in Urban Areas of Indonesia. Saat saya baca makalah itu, ada referensi berikut ini dan saya google untuk memeriksa apakah tersedia dokumen lengkapnya, “Kurniawan, A. (2011). “The Evaluation of Land Subsidence in Surabaya from Global Positioning System Measurement Using GAMIT/GLOBK”. Master Thesis, Institute of Technology Sepuluh November (ITS), Surabaya“. Saat saya google judul tesis tersebut yang muncul hanya tersedia abstraknya.

Di sini pentingnya kebijakan membuka tesis di repositori kampus (termasuk kampus saya). Tidak perlu saya jelaskan lagi dan jelas tidak perlu ada bencana sebelum akhirnya kita membuka karya kita ke publik.

Semoga kita dapat mengetahui penyebab amblesan dan cara rehabilitasinya.

Nah sekarang kita lihat gambar di atas:

  1. what: karya ilmiah (dalam bentuk apapun)
  2. who: kita (para peneliti/dosen/praktisi)
  3. where: diutamakan repositori kampus, repositori umum-terbuka, blog pribadi
  4. when: sesegera mungkin (akan lebih hebat lagi kalau dibagikan  saat sedang dikerjakan dan diperbarui secara berkala)
  5. how: diunggah secara daring
  6. why: karena manusia tidak hidup selamanya. Apapun yang diketahui harus segera dibagikan.