Video ini lahir di tengah kemacetan perjalanan pulang, tetapi isinya justru sangat padat. Isinya memuat refleksi saya tentang profesi dosen, passion yang pelan-pelan bisa terkikis, dan janji saya kepada almarhum Ayah saya.
Di permukaan, monolog ini dimulai dengan kesan tentang Dies Natalis ITB ke-67 tanggal 2 Maret lalu. Di lapisan yang lebih dalam, video ini adalah ajakan halus namun tegas kepada saya sendiri dan para dosen untuk mengingat kembali alasan awal melangkah ke kampus dan menandatangani lamaran sebagai dosen.
Tanggal 2 Maret lalu, acara Dies Natalis ITB ke-67 menghadirkan tiga pembicara: Ketua Senat yang berbicara tentang regulasi dan tata kelola, Rektor yang menekankan cita-cita ITB untuk menjadi bagian dari solusi bangsa, dan Prof. Elfahmi yang menyampaikan orasi ilmiah di bidang farmasi.
Orasi yang menggugah dan potret passion seorang peneliti
Hal pertama yang berkesan adalah cara Prof. Elfahmi menyampaikan orasi ilmiahnya. Walaupun orasi ilmiah secara formal terikat pada teks yang harus dibaca, beliau mampu mengubah teks itu menjadi presentasi yang hidup
Di sini muncul pesan penting: peneliti, apalagi dosen, tidak cukup hanya punya kompetensi teknis. Ia perlu memelihara gairah, antusiasme, dan kemampuan bercerita tentang risetnya. Passion bukan sekadar “semangat sesaat”, melainkan energi yang memerangkap perhatian orang lain dan membuat ilmu terasa relevan. “GRIT” mungkin bisa menjadi kata gantinya.
Tridharma, tugas penunjang, dan passion yang perlahan tererosi
Saya mengakui bahwa pekerjaan dosen itu banyak dan berat: pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat, layanan kepakaran, ditambah berbagai unsur penunjang seperti satgas dan tim-tim ad hoc. Beban itu sangat mungkin mendistraksi dosen dari alasan awal ia melamar: ingin mengajar, ingin meneliti, ingin berkontribusi.
Distraksi ini tidak berhenti di tataran jadwal. Lama-lama, ia dapat meresap ke jiwa: passion yang dulu kuat bisa tergeser atau bahkan berganti menjadi bentuk “passion lain” yang tidak lagi terkait dengan menulis, meneliti, atau mengembangkan ilmu. Gejala paling ringan: karir dibiarkan berjalan apa adanya, tanpa rencana, tanpa upaya serius untuk berkembang.
Yang lebih berat: muncul cara pandang pesimis dan apriori terhadap hampir semua hal – kebijakan kampus, situasi Indonesia, bahkan perkembangan dunia. Bukan orangnya yang diberi label negatif, tetapi pola pikirnya bergeser ke titik di mana perubahan dan hal baru hampir otomatis dianggap salah atau buruk. Itu bukan hanya mengubah diri sendiri, tetapi menular ke lingkungan, terutama ke dosen-dosen yang lebih muda.
Menulis sebagai inti profesi dosen, tidak ada yang tidak tahu
Menurut saya, dosen, khususnya dosen ITB, sejak awal sudah tahu bahwa profesi ini menuntut aktivitas menulis. Generasi yang masuk kampus sejak era 1990-an (seperti saya) tidak mungkin tidak pernah mendengar bahwa dosen harus menulis, dari senior atau mentornya.
Namun realitasnya, banyak dosen yang bukan hanya kesulitan menulis di jurnal bereputasi, tetapi juga tidak menulis dalam bentuk lain apa pun. Ketika ditanya apakah menulis di format lain – esai populer, blog, laporan singkat, naskah ajar – seringkali jawabannya juga tidak. Ini menimbulkan pertanyaan mendasar: kalau menulis tidak lagi menjadi bagian rutin dari praktik profesional, lalu bagaimana kita memaknai profesi dosen yang seharusnya memproduksi pengetahuan?
Monolog ini bukan tentang jurnal Q1 atau kewajiban administratif. Fokusnya adalah tindakan dasar: menulis, memproduksi, menuangkan gagasan ke dalam bentuk yang bisa dibaca, dikritik, dan dikembangkan orang lain.
Bahaya sikap apriori dan komitmen untuk tidak menjadi “selalu negatif”
Saya juga tidak sempurna menjaga passion saya sendiri. Namun saya tahu persis satu hal: saya tidak ingin berubah menjadi sosok yang selalu apriori dan negatif, orang yang melangkah ke sisi gelap dulu sebelum melihat data dan informasi secara utuh.
Di tengah tekanan kerja, saya menyadari sangat mudah bagi siapapun termasuk dosen untuk tergelincir menjadi komentator sinis terhadap segala hal. Tetapi sikap seperti itu, jika dibiarkan, akan menghambat mereka sendiri (diri saya sendiri) dan juga generasi yang datang kemudian. Refleksi ini bukan tudingan ke orang lain, melainkan cermin bagi diri sendiri dan ajakan agar kita sadar titik-titik di mana kita mulai terlalu cepat menolak dan terlalu malas untuk memahami.
Nyamplung, Surabaya, dan jembatan antara ilmu dan memori pribadi
Bagian lainnya memberikan lapisan emosional buat saya adalah ketika cerita tentang daun nyamplung muncul di orasi Prof. Elfahmi. Nyamplung sebagai tanaman obat, membuat saya teringat masa kecil di Surabaya, khususnya Jalan Nyamplungan di sekitar Masjid Sunan Ampel.
Saya terkenang dulu rutin diajak almarhum Ayah membeli martabak asin. Kalau di Surabaya, saat disebut “martabak”, maka yang keluar pasti martabak asin. Berbeda dengan di Bandung, yang membutuhkan kata sifat, “asin/telor” atau “manis”. Kalau di Surabaya, martabak manis namanya “terang bulan”, sampai hal-hal kecil seperti merek minyak goreng yang khusus untuk membuat martabak. Detail-detail itu saya ingat betul. Ini akibat daun Nyamplungnya Pak Elfahmi.
Ini secara implisit mengajarkan bahwa riset dan orasi ilmiah bisa (dan mungkin sebaiknya) punya titik temu dengan kisah-kisah manusia yang konkret, sehingga ilmu tidak terasa kering.
Ayah, cita-cita menjadi dosen, dan janji yang terus dihidupkan
Dari Jalan Nyamplungan, bergeser ke almarhum Ayah saya. Saya jadi dosen dan sampai saat ini bertahan (baca: tumbuh) sebagai dosen, bukan semata pilihan rasional saya. Motivasi awal saya adalah untuk memenuhi harapan almarhum ayah saya. Ayah saya dulu mengidolakan teman seangkatan yang menjadi dosen di Universitas Airlangga. Ayah saya ini tampaknya menyimpan keinginan kuat agar anaknya ada yang menapaki jalan serupa.
Keinginan itu akhirnya terucap eksplisit ketika saya lulus S1 (1998), setelah sebelumnya sudah terlibat membantu dosen — saya termasuk membantu menulis buku Prof. Deny Juanda pada akhir 1990-an. Dari situ, jalan menuju profesi dosen terbuka.
Monolog ini sebagai pengingat diri saya sendiri bahwa ada hal-hal yang tidak sempat dijalani oleh Ayah saya, yang kini “dititipkan” kepada saya melalui profesi dosen. Rekaman ini juga menjadi arsip janji saya kepada Ayah saya: janji untuk tetap menjalani hal-hal yang selayaknya dilakukan dosen, terutama menjaga passion dan terus menulis.
Penutup
Dari seluruh cerita, beberapa pesan penting yang layak digarisbawahi adalah:
- Seorang peneliti dan dosen perlu memelihara passion, bukan hanya kompetensi; antusiasme yang tulus bisa membuat presentasi ilmiah benar-benar memikat.
- Beban tridharma dan tugas penunjang sangat mungkin mengikis passion awal, tetapi kita perlu sadar dan melawannya sebelum berubah menjadi sikap pesimis dan apriori terhadap segala hal.
- Menulis adalah inti profesi dosen: jika menulis tidak lagi menjadi kebiasaan, maka kita perlu mempertanyakan ulang bagaimana kita menjalankan peran sebagai penghasil pengetahuan. “Menulis” di sini dalam arti luas, bukan hanya menulis artikel untuk jurnal Q1.
- Sikap selalu negatif terhadap perubahan bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga dapat menular ke generasi dosen yang lebih muda.
- Ilmu dan kehidupan pribadi tidak terpisah; satu istilah ilmiah bisa menjadi jembatan ke memori, nilai, dan janji yang membentuk kompas moral seorang akademisi.