Mengelola Konsumsi untuk Meningkatkan Produksi

Author:

Kita hidup di era yang serba cepat. Dalam satu hari, tanpa terasa kita bisa menerima banyak sekali potongan informasi. Membaca kabar, menonton video, menyimak utas media sosial (medsos), membuka presentasi, menggeser layar, lalu menutupnya dengan perasaan seolah sudah melakukan banyak hal. Kadang yang terjadi bukan benar-benar melakukan, melainkan lebih banyak mengonsumsi. Energi mental habis, waktu lewat, tetapi jejak karya belum sempat bertambah. Kita terasa kenyang informasi, tetapi pertumbuhan tidak selalu mengikuti. Ini saya rasakan juga. Itu kenapa saya perlu lari dan menggambar untuk membuat suasana menjadi netral.

Di FITB, ritme ini juga mudah terjadi, sering kali karena pekerjaan harian yang memang penting. Dosen membaca dan menilai, menghadiri rapat, menuntaskan administrasi, memantau kelas, dan menjawab pesan, mengisi formulir, dll. Tendik mengelola arus dokumen, memastikan layanan berjalan, dan menjaga agar mesin akademik tetap bergerak. Mahasiswa mengejar materi, menuntaskan tugas, menyerap referensi, dan mengikuti kegiatan. Semua ini layak dihargai. Hanya saja, di sela-sela kesibukan yang wajar itu, kita kadang tanpa sengaja menyamakan kalender padat seolah telah berkarya. Hari terasa penuh, tetapi penuhnya dengan reaksi dan konsumsi saja, bukan produksi dan penciptaan.

Sering kali, yang membuat kita belum sempat memproduksi secara wajar bukanlah semata kekurangan waktu atau beban kerja. Ada juga faktor penghindaran. Kita membuka email dulu agar terasa siap bekerja. Kita mengecek kabar kampus agar tidak ketinggalan berita. Kita merapikan folder agar terlihat lebih terstruktur. Kita menonton satu video produktivitas agar merasa punya strategi. Semua terdengar masuk akal, sampai kita sadar bahwa itu dapat menjadi cara yang halus untuk menunda memulai hal yang sebenarnya penting.

Lalu kita membuat ruang produksi yang kecil tetapi nyata. Produksi tidak harus menunggu blok waktu panjang yang tenang. Produksi dapat dimulai dari satu paragraf, satu diagram, satu halaman, satu tabel, atau satu kerangka. Yang penting bukan durasinya, melainkan keberanian untuk memulai. Yang sulit memang menemukan momentum. Tapi momentum juga bisa dipaksa muncul.

Kita adalah komunitas akademik. Kampus tidak akan maju hanya karena orang-orangnya sibuk. Kampus maju karena ada karya yang benar-benar lahir dan bisa dipakai. Walaupun definisi “karya yang bisa dipakai” ini juga masih diperdebatkan, tetapi karya dalam bentuk makalah tidak bisa dibantah memang yang ditunggu.

Jika hari-hari kita terasa terlalu banyak konsumsi, mungkin bukan karena kita tidak mampu memproduksi, melainkan karena kita terlalu lama menghindari kewajiban. Sepertinya perlu ada hari ketika kita menutup beberapa aplikasi agar baterai kembali tersedia untuk satu hal yang benar-benar penting. Hari ketika kita pulang dengan satu bukti kecil bahwa kita bukan hanya mengonsumsi dunia, tetapi ikut menambahkan sesuatu ke dalamnya.