Mengapa kita harus berhenti menganggap angka Turnitin sebagai vonis mutlak plagiarisme
Oleh: Dasapta Erwin Irawan
Pernahkah Anda merasa khawatir saat melihat persentase di bagian atas laporan Turnitin? Di lingkungan akademik kita, angka tersebut kerap diperlakukan seolah-olah menjadi “vonis”. Ketika nilainya tinggi, label “plagiat” pun mudah disematkan. Padahal, ada satu miskonsepsi penting yang perlu kita luruskan bersama: Turnitin tidak pernah mengklaim dirinya sebagai pendeteksi plagiarisme.
Di sisi lain, beberapa kali saya melihat ada preprint yang disampaikan oleh kolega dosen di repositori Arxiv sebagai bukti hasil kerjanya. Saya sudah dapat membayangkan berapa prosentase kemiripannya ketika dideteksi menggunakan Turnitin.
1. Kemiripan Teks Tidak Identik dengan Plagiarisme
Turnitin — seperti yang disebutkan di situs resminya — pada dasarnya adalah similarity detector (pendeteksi kemiripan), bukan hakim integritas akademik. Ia bekerja dengan membandingkan rangkaian teks dalam dokumen dengan berbagai database yang terkoneksi. Karena itu, Turnitin tidak dapat menilai apakah kemiripan muncul dari kutipan yang sah atau istilah teknis atau akronim yang memang sudah baku. Atau yang paling sering terjadi adalah, ada kemiripan antara dokumen dengan versi awal tulisan penulis itu sendiri, yang kebetulan telah diunggah daring (bernama preprint). Saya akan bahas ini di bawah.

2. Paradoks preprint dan semangat Green Open Access (Green OA)
Di dunia yang berbeda, ada satu jenis dokumen yang sudah pasti mirip dengan dokumen yang sama yang telah terbit di jurnal. Namanya preprint.
Preprint adalah manuskrip yang belum menjalani telaah sejawat (peer review). Jadi preprint adalah manuskrip yang diunggah setelah selesai. Seperti pizza yang baru keluar dari panggangan yang langsung diletakkan di meja pelanggan. Jadi pas “hangat-hangatnya”. Berbeda dengan manuskrip versi final yang telah menjalani telaah sejawat, lalu diterima, dan telah memiliki branding jurnal tempatnya terbit. Jadi jelas bahwa preprint dan manuskrip yang telah terbit, berawal dari barang yang sama. Bedanya preprint ditayangkan ke publik begitu selesai ditulis. Itu saja bedanya.
Saat ini, gerakan Open Science mendorong penulis untuk melakukan online self-archiving. Dengan mengunggah manuskrip ke server preprint, penulis memastikan ide mereka tersebar lebih cepat dan terbuka untuk masukan publik dan juga menjadi refleksi transparansi dari proses riset. Inilah esensi dari Green Open Access (Green OA).
Green OA juga suda menjadi cara resmi yang direkomendasikan berbagai penerbit besar sebagai jalan keluar bila penulis atau kampus tidak memiliki dana untuk membayar Article Processing Charge (APC). Dengan Green OA, maka penulis dapat mengunggah versi OA (gratis) dari makalahnya yang telah terbit sebagai makalah non OA (pembaca harus membayar untuk membaca).
Namun, ironisnya, banyak penulis justru “dihukum” oleh sistem asesmen karena karyanya terdeteksi memiliki kemiripan tinggi dengan preprint mereka sendiri. Padahal:
- Preprint bukanlah publikasi formal di jurnal, melainkan bentuk pengarsipan mandiri.
- Menurut data dari Transpose (Transparency in Scholarly Publishing for Open Scholarship Evolution), ada hampir 3.000 jurnal di seluruh dunia yang secara eksplisit mendukung dan mendorong praktik preprint (https://transpose-publishing.github.io/#/).
Jika jurnal-jurnal global sudah tidak menganggap preprint sebagai plagiarisme atau publikasi ganda, mengapa kita di Indonesia masih menggunakan prosentase kemiripan Turnitin sebagai satu-satunya dasar untuk memberikan vonis bahwa telah terjadi pelanggaran akademik?
3. Pesan untuk para Asesor program apapun yang menggunakan Turnitin
Kepada rekan-rekan asesor program apapun yang menggunakan Turnitin, mohon dapat diperhatikan bahwa laporan Turnitin hanyalah langkah awal dalam asesment, bukan kesimpulan akhir.
Saat melakukan asesmen, mohon lebih kritis dalam menganalisis angka kemiripannya dengan melakukan beberapa langkah berikut ini:
- Lihat Sumbernya: Jika sumber kemiripan berasal dari repositori institusi atau server preprint terhadap dokumen yang sama dan atas nama penulis yang sama, maka itu adalah self-archiving, bukan pelanggaran etika. Jadi memang jangan hanya melihat per item prosentase kemiripan, tetapi juga cek dokumen yang mirip tersebut untuk dipelajari kontennya.
- Abaikan kemiripan dengan elemen layout manuskrip, misal: header, footer, daftar pustaka, acknowledgment, logo jurnal, tag line jurnal, dan yang sejenisnya. Kalau ini sudah jelas. Masalah yang terdeteksi logo, header, footer, lalu divonis melanggara etika akademik.
- Abaikan kemiripan 1% atau kurang: Karena kemungkinan besar kemiripan 1% adalah berupa kesamaan frasa yang tidak memiliki makna saat dibaca.
- (Saya setuju) Periksa setiap kemiripan yang lebih dari 3%: Jangan hanya melihat angka total (misalnya, 3% atau 30%). Klik laporan rincinya. Jika kemiripan itu adalah bagian “Metode” yang memang standar atau “Referensi”, maka itu adalah kemiripan yang wajar. Turnitin bahwa mendeteksi kesamaan rumus atau header dan footer dokumen. Tentu kesamaan ini wajib diabaikan dalam menentukan keputusan.
- Membuka diri terhadap upaya sains terbuka tentang pengarsipan mandiri dalam format preprint: Dosen yang mengunggah preprint sedang berkontribusi pada visibilitas sains global. Menghambat karir mereka karena “angka kemiripan” dengan karya mereka sendiri adalah langkah mundur bagi kemajuan ilmu pengetahuan.
Langkah-langkah selengkapnya dapat disimak dalam pdf paparan di bawah ini.
Penutup
Sudah saatnya kita menempatkan Turnitin secara proporsional, sebagai alat bantu awal yang harus ditafsirkan dengan kritis, bukan sebagai angka sakral yang langsung menentukan label etika akademik seseorang. Yang perlu dinilai bukan sekadar total persentase, melainkan konteks kemiripan, sumber kemiripan, dan apakah bagian yang mirip itu memang wajar seperti metode standar, istilah teknis, atau daftar pustaka.
Kita juga perlu membedakan kemiripan yang muncul karena praktik sains terbuka, misalnya pengarsipan mandiri melalui preprint, dari kemiripan yang benar-benar bermasalah seperti penyalinan tanpa atribusi dan klaim kepengarangan yang tidak sah. Pada akhirnya, keputusan integritas akademik harus lahir dari pembacaan manusia yang teliti, bukan dari ringkasan angka yang mudah disalahpahami.
Mari berdiskusi.
Apakah Anda pernah mengalami situasi ketika angka Turnitin tinggi tetapi sumbernya ternyata preprint sendiri atau elemen layout, sehingga perlu klarifikasi kepada asesor atau pengelola jurnal.
Apa strategi Anda untuk menjelaskan konteks kemiripan tersebut, dan kebijakan apa yang menurut Anda paling adil untuk kampus agar Turnitin tidak menjadi alat yang menghukum praktik sains terbuka.