Saat ini saya sedang mengusulkan kenaikan jabatan dari Lektor ke Lektor Kepala. Beberapa waktu lalu saya menerima informasi bahwa dokumen usulan saya memiliki kekurangan makalah yang…
Kita terlalu sering menghindar …
Masih tentang #Permenristekdikti2017
Hiruk pikuk #permenristekdikti2017
Post ini pertama kali dipublikasikan sebagai “FB notes” tanggal 12 Februari 2017. Menarik banyak komentar, pro dan kontra. Selebihnya saya sangat senang bisa mengenal rekan-rekan baru dengan pandangan yang berbeda.
Hati-hati memberi label “abal-abal” dan “asal riset”
Terbangun malam hari untuk membaca pernyataan “seseorang” tentang “jurnal abal-abal” dan “asal riset”. Konteksnya pasti Permenristekdikti itu.
Ini pendapat saya.
Maaf suntingan masih kurang rapih. (sudah saya rapihkan)
Pengelolaan jurnal ilmiah: konvensional vs open access bagian 3
Jadi bagaimana sikap kita as a living breathing and proud Indonesian scientists? FYI, justru bagian ini yang jadi lebih dulu dalam artikel ini. Jadi bagaimana…
Pengelolaan jurnal ilmiah: konvensional vs open access bagian 2
Article Processing Cost (APC)
Sebelum saya membahas hal ini secara ringkas, saya akan copy paste kan beberapa cuitan (tweet) dari kawan Twitter saya Prof. Erin Mckiernan yang berkerja di National Autonomous University of Mexico. Cuitannya tentang keprihatinan seorang peneliti dari negara maju yang sedang bekerja di institusi pendidikan di Mexico, sebuah negara yang menurutnya memiliki akses terbatas terhadap material ilmiah.
Pengelolaan jurnal ilmiah: konvensional vs open access bagian 1
Bahwa mengelola jurnal ilmiah adalah sebuah bisnis.
Tulisan ini dilatarbelakangi masih banyaknya pertanyaan dari akademia tentang jurnal open access (OA). Sebenarnya apa jurnal OA itu dan bagaimana model bisnisnya, mengapa kita dianjurkan untuk OA, dst. Selain itu dengan terbitnya Permenristekdikti No. 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor terjadi gelombang “keresahan” yang mestinya sudah diantisipasi oleh Si Pembuat Kebijakan. Keresahan ini yang kemudian diharapkan bertransformasi menjadi energi positif untuk menghasilkan karya, yang tidak hanya sebatas kepada artikel di jurnal internasional.
Berikut sedikit yang bisa saya sampaikan. Tentunya pendek-pendek dan bersambung ya.
Dissertation vs journal article
Pertanyaan yang sering diajukan (FAQ), termasuk saat sesi “Science communication for graduate students” kemarin, dan jawaban dari penerbit favorit banyak orang (Elsevier):
Dalam hal, seseorang menulis makalah ilmiah yang bersumber dari kegiatan penelitian S3 setelah tesis/disertasi disampaikan (submitted) ke universitas. Apakah tesis/disertasi dianggap sebagai publikasi (prior publication)?
Membaca dan membaca
Bagian ini adalah potongan Bab Memulai Riset dalam Buku STPDN (Sukses sTudi Pascasarjana di Dalam Negeri). Ilustrasi akan kami tambahkan untuk memperjelas bagaimana kita merumuskan…
A new pre-print posted on Zenodo
Just this morning we posted a pre-print about implementing open science in Indonesia’s scholarly communication. We wrote it in Indonesian (ID) language. Read more